Lagi

Posted on

Lagi

Akibat bukan ilmuwan sejarah, maka saya tidak berhasil menemukan fakta sejarah mengenai bagaimana dan sejak kapan dan oleh siapa kata “lagi” digunakan dalam makna “sedang dalam keadaan melakukan dan sebagainya” atau “masih”. Meski kata “lagi” juga masih digunakan dalam makna “sedemikian pula” atau “kembali” atau “amat sangat”.

Berarti kata “lagi” digunakan dalam empat makna sekaligus, meski justru paling kerap digunakan dalam makna sedang dalam melakukan sesuatu, seperti misalnya “Maaf, tidak saya tidak bisa terima telpon sebab lagi berada di jalan”. Tampaknya kata “lagi” lebih disukai ketimbang “sedang” dalam makna ukuran nilai yang identik dengan “tidak terlalu” seperti dalam kalimat nasi goreng itu sedang saja pedasnya. Meski menjadi kurang pas maknanya jika digunakan dalam kalimat Nasi goreng itu lagi saja pedasnya. Sementara sungguh tidak konsisten bahwa kata ulang “lagi-lagi” tidak konsekuen dipaksa berubah makna menjadi “sedang-sedang”.

Kesepakatan

Penambahan makna kata “lagi” pada hakikatnya merupakan pembenaran terhadap hasil penelitian Pusat Studi Kelirumologi terhadap semantika bahwa makna suatu kata merupakan hasil kesepakatan oleh masyarakat yang menggunakan kata tersebut. Maka “saya” bermakna “aku” selama masyarakat pengguna sepakat bahwa makna kata “saya” adalah “aku”. Namun “saya” bermakna “kamu” apabila masyarakat yang menggunakannya sepakat menggunakan kata “saya” sama dengan “kamu”.

Sama halnya dengan nasib kata “seronok” yang semula disepakati sebagai senonoh namun kemudian ada yang menggunakan kata “seronok” dalam makna “tidak senonoh” ternyata kemudian masyarakat sepakat untuk mengekor mengikuti keteladanan pihak mengubah makna kata “seronok”.

Namun masyarakat Malaysia sepakat pada makna kata “seronok” bukan saja “senonoh” namun juga “pantas” bahkan “serasi ”. Maka sebaiknya ketika di Indonesia, orang Malaysia berhati-hati dalam menggunakan kata “seronok”. Dan sebaliknya orang Indonesia ketika di Malaysia jangan sembarangan menggunakan kata “seronok” agar tidak terdampak masalah tak diinginkan. 

(Penulis adalah pembelajar fenomena evolusi makna pada kata tertentu)

Source link