Lagi

Posted on

Oleh: Jaya Suprana

NASKAH sederhana ini dipersembahkan kepada para senasib dalam terpaksa bertapa di dalam rumah pada masa pageblug Corona. Teriring sedikit harapan naskah sederhana ini bisa menjadi semacam hiburan. Bagi yang tidak butuh hiburan silakan berhenti membaca sampai di sini saja.

Bagi yang nekat lanjut membaca, mohon sudi memaafkan apabila ternyata naskah ini alih-alih menghibur malah menjengkelkan. Insya Allah, jangan ada yang tega memolisikan saya dengan dugaan membuat ketidaknyamanan, sebab tidak ada paksaan untuk membaca naskah tidak nyaman ini.

Makna

Di masa kanak-kanak, saya terbiasa menggunakan kata “lagi” dalam arti “tambah sekian”, seperti di dalam kalimat “Saya sabar menunggu hadiah Natal seminggu lagi”, atau dalam makna “kembali” seperti di dalam kalimat “Meski kemarin sudah, tetapi hari ini saya menonton film itu lagi”, atau seperti di dalam kalimat “Rasa lapar saya sudah tidak tertahan lagi”.

Karena masyarakat pada masa itu menggunakan kata “lagi” dalam makna-makna tersebut, maka saya meyakini bahwa semua itu adalah makna kata “lagi” yang benar. Kemudian pada akhir tahun 60-an abad XX saya meninggalkan tanah kelahiran untuk belajar, kemudian mengajar di tanah perantauan.

Di Jerman, terpaksa saya lebih kerap berkomunikasi dengan warga Jerman dalam bahasa Jerman ketimbang bahasa Indonesia. Meski dalam berpikir saya masih berkomunikasi dengan diri saya sendiri dalam bahasa Indonesia sebagai bahasa Ibunda saya.

Pada akhir tahun 70-an abad XX, saya kembali ke Tanah Air Udara tercinta. Ternyata selama sekitar sepuluh tahun, kata “lagi” telah mengalami evolusi berupa beberapa penambahan makna secara cukup membingungkan saya.

Perubahan

Pada masa menjelang akhir tahun 70-an abad XX, masyarakat Indonesia menggunakan kata “lagi” dalam makna “sedemikian pula” atau “kembali” atau “amat sangat”, tetapi juga dalam makna “sedang”. Bahkan Kamus Besar Bahasa Indonesia meletakkan makna “sedang” justru pada posisi pertama sebelum tiga makna lain-lainnya.

Secara hitam di atas putih, KBBI memaparkan makna pertama kata “lagi” adalah sedang (dalam keadaan melakukan dan sebagainya); masih dengan contoh kalimat: jangan berisik, ayah lagi tidur. Dan pada kenyataan kehidupan sehari-hari, apa yang dimaknakan oleh KBBI itu dibenarkan atau membenarkan makna kata “lagi” yang digunakan oleh masyarakat Indonesia menjelang akhir tahun 70-an abad XX dalam makna “sedang”